Drama bullyng 9 orang


WELCOM

Ini bukan cerpen tapi lebih ke drama. Drama tentang pembulian di sekolah yang dibuat gue sama teman-teman gue. Kerja sama dan juga Revisi beberapa kali hingga akhirnya ditampilkan ke panggung dan mendapat penilaian yang memuaskan. Kenalin para teman teman gue;
Al Usnah Turrabiyah sebagai narator
Anisa sebagai bu Lyly
Rida Nur Ramadana sebagai Alina
Diana sebagai Sandra
Desy Fitriani sebagai Laura
Rahmadi Ilham sebagai Aldin
Riesti Eka sebagai Rani
Lely Hapsari sebagai Annie
M. Rifky sebagai David



BULLYNG

      SMA Garuda yang berlokasi di Bandung menerima murid baru dari Jakarta. Disaat bu Lyly masuk kelas dengannya, para murid sangat ribut dan bu Lyly membuat mereka diam. 

      "Diam semuanya! Hari ini kita kedatangan murid baru. Kenalkan diri kamu."

      "Kenalin gue Rani, gue pindahan dari Jakarta."

      "Kayaknya gue pernah lihat lo deh, dimana ya?" kata Sandra dengan gaya berfikir.

      "Oh, yang diberita minggu lalu. Yang anak beri saksi saat bapakanya ditangkap kpk?" jawab Alina.


    "Oh, pejabat korupsi itu?"

      "Astaga, kalian blak-blakkan banget. Tapi benar juga sih." kata Annie.

      "Bukannya mantan pejabat ya, kan sudah masuk penjara." ejek Alina yang membuat seisi kelas tertawa.

      "Diam semua! Kenapa kalian kaya gitu ke murid baru. Sudah, Rani kamu duduk dibelakang sana."

      "Baik, bu."

      "Kita mulai pelajarannya. Buka hal 68."

      Bu Lyly memulai pelajaran. Kemudian bel istirahat berbunyi. Bu Lyly keluar dan beberapa murid lain mendekati Rani. Mereka adalah Laura, Sandra, Alina, dan Annie. Rani terlihat canggung.

    "Heh, anak koruptor! Kayaknya gue pernah lihat lo jalan sama pacar Laura deh." labrak Alina lalu duduk di meja Rani.

      "Masa' sih?"

      "Oh iya, yang cewek gandengan sama pacar lo di mall." sambung Annie.

      "Astaga! Ternyata lo! Ngapain lo jalan sama pacar gue! Suka lo sama dia!"

      "Ish ish bapaknya koruptor eh anaknya perebut pacar orang. Kelebihan lo apa sih! Wajah standar kaya gini!" tukas Sandra.

      "Jadi orang gak usah sok! Paling pacar gue najis sama lo!" cibir Laura lalu mendorong bahu Rani.

      "Tapi gue gak ada hubungan apa-apa sama pacar lo."

    "Halah masih aja bohong, jujur aja apa susahnya sih!"

      "Tapi gue emang gak ada hubungan apa-apa!" bela Rani lalu bangkit dan memukul mejanya.

     "Oh, masih bohong!" gertak Laura lalu menyemburkaan air ke wajah Rani.

      "Lo gak punya mulut, jawab bego!"

      Laura menarik Rani dengan keras kedepan pintu. "Sana minta tolong sama bapak lo yang dipenjara!" kemudian kembali lagi.

      "Hebat lo, Laura." puji Annie.

      "Oy, kalian itu sama murid baru kenapa kaya gitu!" tegur David.

      "Iya, jahat banget kalian." sambung Aldin.

      "Ngapain lo ngurusin kita! Urus urusan lo sana!"  gertak Alina yang kesal.

      "Kerjaan sambung mulu." ledek Sandra.

      Bu Lyly datang dan melihat Rani berdiri di depan kelas dengan baju yanga gak basah. "Rani, kenapa baju kamu basah?"

      "Air minum saya tumpah, bu."

      "Oh, ayo masuk ke kelas."

Rani mengikuti bu Lyly ke kelas dan duduk di bangkunya. Ia sempat mendapat tatapan tajam dari Laura dan teman-temannya. 

      "Sekarang, kalian buat 2 kelompok dan kerjakan hal 69."

      Sesuai perintah bu Lyly, mereka membuat kelompok. Sandra, Laura, Annie, Aldin menjadi kelompok satu dan Alina, Rani dan David menjadi kelompok kedua. Mereka mengerjakan dengan serius dan bu Lyly keluar karna mendapat telepon.

      "Ran, lo kerjain yang A gue sama Alina yang B."

      "Oke."

      "Apaan sih lo, Vid! Nyuruh anak koruptor buat ngerjain!" tukas Alina.

      "Kan satu kelompok, harus dikerjain sama-sama." 

      "Bapaknya aja gak pecus apalagi dia!"

      "Woy, kalian ributin apaan sih!" tegur Aldin.

      "Nih, si David nyuruh Rani buat ngerjain tugas. Emang bisa!" 

      "Ya kali anak koruptor suruh ngerjain tugas, yang ada kacau semua." cibir Laura dengan nada datar.

      Laura mendekati Rani dan kembali menarik tangannya dengan keras lalu mengeluarkannya ke pintu depan. "Tempat lo bukan disini! Pergi lo, najis!"

      Bel istirahat kedua berbunyi. Laura dan teman-temannya keluar kelas untuk istirahat. Mereka melihat Rani dan menyuruhnya menjauh. 

      "Jauh-jauh lo! Alergi gue dekat-dekat sama anak koruptor!"

      Rani pergi ke tempat lain dan bermain dengan handphonennya. Laura yang penasaran mendekatinya dan melihat isi handphone Rani yang ternyata chattan dengan pacar Laura.

      "Eits, apaan nih. Lo chattan sama pacar gue?"

      Sandra mendekati laura bersama yang lainnya. "Kenapa, Laura?"

     "Nih, lihat sendiri." Ujar laura memberikan handphonenya.

      "Ternyata benar, lo suka sama pacar laura!"

      "Keterlaluan!" sambung Alina.

      "Gak! Itu chattan cuma buat tugas doang."

      "Cih! Bullshit! Kita buat dia nggak betah sekolah aja yuk."

      "Boleh." jawab ketiga temannya serentak.

      Saat laura dan teman-temannya ingin membuat Rani tak betah sekolah, David dan Aldin mendekati mereka.

      "Woy, bel udah bunyi kalian gak mau masuk?" tegur David.

      "Nanti bu Lyly masuk." sambung Aldin.

      "Ganggu aja lo." jawab Annie dengan nada tinggi.

      "Ya udah kita masuk aja, nanti kalau bu Lyly masuk bisa ribet." 

      Laura merangkul Rani menuju kelasnya. "Hp lo gue sita." katanya lalu duduk di bangkunya.

      Rani duduk di bangkunya dan bu Lyly masuk. "Kumpulkan tugas tadi."

      Semua sudah mengumpul. "Sekarang, saya beri pr hal 70 dan kumpulkan besok."

Rani membuka bukunya dan Annie secara tiba-tiba mengambilnya dan melemparkan kearah bu Lyly yang sedang memeriksa tugas mereka tadi. Bu Lyly lantas marah.

      "Siapa yang lempar!"

      "Rani, bu." tunjuk Annie dan teman-temannya.

      "Ya ampun, Rani. Kamu murid baru berani sama saya!"

      "Suruh keluar aja, bu." saran Laura.

      "Iya, bu." balas Sandra tak kalah semangat.

      "Keluarin aja, bu." tak lupa Alina.

      "Rani, keluar kamu!" tegas bu Lyly lalu Rani keluar.

      "Semua jangan tiru Rani, masih baru tapi sudah gak sopan sama saya."

      "Sudah, sekarang silahkan pulang. Jangan lupa pr kalian."

      "Baik, bu." jawab mereka semua serentak.

      Melihat bu Lyly keluar, Rani berjalan masuk ke kelasnya tapi ia disenggol oleh Laura. "Sorry, gak sengaja." kata Laura.

      Rani hanya diam kemudivan mengambil tasnya lalu pergi.

Satu hari telah berlalu, Hari esoknya pun dimulai. Laura dan teman-temannya datang bersamaan dengan David dan Aldin. Rani masuk ke kelas dan tak sengaja menyenggol bak sampah yang memang ditaruh sengaja di tengah pintu.

      "Woy, Rani buang tuh sampah!"

      Rani pun melakukan perintah dari Laura dan pergi ke bangkunya tapi ia dicegat oleh Laura. "Lo pelet pake apa pacar gue?!"

      "Gue gak tahu."

      "Masih bohong aja. Oh ya, mana pacar gue?"

      "Baru berangkat ke Jakarta tadi malam."

      "Pantes gak di read. Udah, sana lo!" Gak guna banget hidup!"

      Rani duduk dibangkunya. Lalu, bu Lyly masuk. "Hari ini, kita ulangan dadakan. Tolong kerjakan dengan serius."

      Kertas ulangan dibagikan dan semua mengerjakan dengan serius. 30 menir berselang, akhirnya ulangan selesai.

      "Sudah. Kumpulkan sekalian dengan pr kalian kemarin."

      Mereka mengumpulkan ulangan dadakan mereka beserta pr mereka. Bu Lyly menilai satu persatu dan salah satu kertas membuatnya marah. 

      "Rani!"

      Rani maju dan mendapat makian keras dari bu Lyly. "Kamu tadi malam belajar gak sih!" 

      "Belajar, bu."

      "Kalau kamu belajar, gak mungkin nilai kamu kaya begini! Ulangan nol, pr dikerjakan setengah. Niat sekolah gak sih kamu! Sudah, kembali ke tempat duduk kamu!"

Rani kembali ke tempat duduknya dan bel istirahat berbunyi. Laura dan teman-temannya mendekatinya. 

      "Cie yang dapat makan dari bu Lyly."

      "Enak gak?" balas Sandra.

      "Makanya, ngerjain tugas dari bu Lyly tuh yang benar."

      "Mikirin pacar orang mulu." cibir Alina.

      "Senang ya mikirin pacar Laura." Sambung Annie.

      Mereka kembali ke tempat duduk mereka sambil tertawa cekikikan. Kemudian bu Lyly kembali masuk untuk mengabarkan sebuah berita.

      "Hari ini ada rapat. Kalian boleh pulang. Yang piket jangan lupa."

      "Baik, bu." jawab mereka serentak.

      Aldin dan David keluar kelas lebih dahulu. Sedangkan Laura dan teman-temannya mendekati Rani yang hendak pulang. Alina mengambil sapu dan pel lalu dilemparkan ke kaki Rani.

      "Hari ini kita piket. Lo gantiin kita. Bersihin semuanya. Guys, hamburin semuanya."

      Mereka menghamburkan meja dan kursi yang ada disana. "Gue gak mau tahu, pokoknya besok sudah harus bersih. Lo bersihin semuanya sampai bersih sama sampahnya juga!" 

      "Jangan lupa, lo juga SAMPAH!" cibir Sandra dengan nada tinggi.

      "SAMPAH!" sambung Alina.

      "SAMPAH!" sambung Annie.

      Laura menendang sapu dan pel yang ada di kaki Rani dengan keras. "DASAR SAMPAH!!" 

      Rani merasa sedih dan merasa tertindas. Ia menulis sesuatu di sebuah kertas. Kemudian,  ia melihat botol pembersih lantai di belakangnya. Rani merasa frustasi dan meminum pembersih lantai itu sampai habis. Tiba-tiba kepala Rani mendadak pusing dan ia pun jatub tak berdaya.

      Bu Lyly  melewati kelas hanya untuk mengecek. Tapi, ia melihat tubuh tak berdaya Rani dan berusaha membangunkannya. Kemudian, bu Lyly melihat kertas di meja Rani dan ia membacanya. 

KALO GAK ADA YANG MAU GUE HIDUP LEBIH BAIK GUE MATI AJA.


Setiap orang punya kekurangan masing-masing, jadi stop pembulian sebelum kalian menghancurkan hidup orang lain dengn kalimat dan perbuatan kalian.

Catatan dan saran;
Bagian narator dibagian beralenia. Saran dari gue, kalau merankan tokoh Rani itu pipi dalam digigit biar kelihatan sedih dan menderita. Soalnya, gue merankan Rani ketawa mulu jadinya gak kelihatan kaya orang menderita. 

Gue selajur promoasi, nih! Yuk, datang ke work gue. Tekan link di bawah, ya!

https://www.wattpad.com/story/125854709

Sekian dari gue dan terimakasih.

Comments

Post a Comment